Info

27 Oktober, 2008

Memiliki Darah India, tapi Lahir di Medan

Masuknya gelandang Sriwijaya FC (SFC) Wijay ke dalam skuad timnas jadi bukti bahwa tim Merah Putih milik seluruh warga Indonesia,tanpa peduli asal-usul mereka.

Wijay WIJAY memang belum sepenuhnya mengenakan kaus timnas. Pria kelahiran Medan, 29 Desember 1982, ini masih harus ikut tahapan seleksi dan berjuang memperebutkan jatah 18 dari 21 pemain yang dipanggil ke dalam pemusatan latihan.

Meski begitu, keputusan Pelatih Timnas Benny Dollo memanggil Wijay sudah jadi bukti tidak ada diskriminasi dalam timnas. Artinya, timnas tidak hanya diperkuat mereka yang 100% berdarah Indonesia, tapi juga warga keturunan. “Ini timnas, jadi saya sangat senang sekali. Selama ini saya belum pernah punya kesempatan untuk itu. Tentu, peluang ini akan saya manfaatkan,” tuturnya kepada SINDO.

Wijay mengakui bisa masuk dalam jajaran pemain terbaik di Indonesia dan masuk dalam skuad Merah Putih tidaklah mudah.Apalagi, untuk pemain yang masih memiliki darah India dari orangtuanya.“ Memang, kakeknya dari kakek saya ada di India. Tapi, kalau mau dirunut, sangat panjang. Sementara orangtua ayah dan ibu saya terlahir di Medan, termasuk saya,”tandasnya.

Hanya, dia tidak menampik jika darah India begitu kental mengalir dalam darahnya. Perawakan dan wajahnya begitu khas sehingga banyak orang menganggap dia dari India. “Banyak yang bilang saya ini pemain dari India. Jadi, keberadaan saya di SFC sebagai pemain asing. Tapi, saya tidak terlalu mempermasalahkan itu. Karena, tugas saya sekarang menjawab apa yang telah dipercayakan timnas kepada saya,” ungkap putra kedua dari tiga bersaudara pasangan Saminaden (alm) dan Dewi ini.

Kini panggilan membela negara sudah di depan mata. Artinya, pantang buat dia mundur dan tidak mau bersaing. “Saya tahu diri, masih banyak pemain senior dalam timnas. Tapi, saya juga akan buktikan bahwa saya punya kemampuan yang sama dengan mereka dan siap bersaing sehat,”paparnya.

Pelatih SFC Rahmad ‘RD’ Darmawan menilai Wijay termasuk pemain pekerja keras sehingga pantas memperkuat tim Merah Putih. “Dia (Wijay) bukan hanya punya kemampuan baik,tapi sebagai gelandang bertahan, dia tidak pernah berhenti menekan lawan, ngeyel, dan tidak pernah lelah mencari bola dan posisi,”sebut RD.

-SinDo

Rahmad Darmawan (Pelatih SFC)




Rahmad Darmawan, nama ini tentu tidak asing bagi pecinta sepakbola nasional. Sosok pelatih satu ini, namanya begitu fenomenal, hal ini dimulai lima tahun setelah RD (Sapaan Rahmat Darmawan) memulai karirnya sebagai pelatih, pada tahun 2005 Rahmad mengantungi gelar juara Liga Indonesia (LI) dan dua tahun setelah gelar pertama itu Rahmad mengantungi sekaligus dua gelar juara, yaitu Copa Indonesia (CI) dan LI 2007.

Lelaki kelahiran Metro, Lampung, 26 November 1966 ini, pertama kali memulai karirnya menjadi pesepak bola Persija Jakarta. Pensiun sebagai pemain di klub Ibu Kota itu, Rahmad mencoba peruntungannya sebagai pelatih di Persikota Tangerang. Rahmad melatih klub berjuluk Bayi Ajaib itu selama empat tahun, mulai dari tahun 2000.

RD terlihat begitu meniati karirnya sebagai pelatih sepak bola, Rahmad mengasah keterampilannya sebagai pelatih dengan belajar ke mancanegara. Setelah tidak lagi menjadi pelatih Persikota, Rahmad mengantungi International Licence di bawah bimbingan Horst Kriete dan Bernd Fisher. Usai mendapatkan lisensi tertinggi itu, Rahmad langsung hijrah ke Persipura Jayapura.

Semenjak RD menjadi pelatih Persipura Jayapura, klub ini pun terlihat bangkit dan meraih gelar juara LI 2005. Hal ini lah, awal mula melambungnya nama Rahmad Darmawan. Beberapa klub luar negeri dan klub besar nasional memburu pelatih berlisensi A ini. Tetapi RD lebih memilih Persija Jakarta.

RD mengakui kesalahannya menerima pinangan Persija. Pasalnya, di Persija dia tidak bisa berbuat banyak. Rahmad tidak bisa memilih pemain- pemain yang akan memperkuat timnya, padahal memilih pemain merupakan tugas dan kewajiban seorang pelatih kepala.

Terperosok di Ibu Kota, Rahmad mengikat kontrak selama dua tahun dengan Sriwijaya FC Palembang (d/h Persijatim Jakarta). Di klub ini, Rahmad dibebaskan mengatur segi teknis tim, tanpa ada intervensi siapa pun. Hasilnya, Rahmad meraih double winner di tahun pertamanya di Palembang. Padahal, dia hanya ditargetkan membawa Sriwijaya FC ke zona Liga Super.

Rahmad Darmawan

Lahir: Metro, Lampung, 26 November 1966

Karir Pelatih:
-Asisten Pelatih Timnas Tiger 2002
-Pelatih Persikota 2003
-Pelatih Persipura 2005
-Pelatih Persija 2006
-Pelatih Sriwijaya FC 2007 (sekarang)

Prestasi:


-Juara Liga Indonesia 2005 bersama Persipura
-Juara Copa Indonesia 2007 bersama Sriwijaya FC
-Juara Liga Indonesia 2007 bersama Sriwijaya FC